”Dik Yanto, nanti kalau sudah airnya diisi lagi ya? Setelah mandi kupompa air di luar kamar mandi sementara itu mertuaku berjongkok mencuci piring di bawah pancuran pompa tangan.Ember yang telah terisi kubawa ke kamar mandi untuk diisikan ke bak, begitu seterusnya hingga penuh. ”Iya nih, Ma” ”Kenapa sih kamu kok cuma liat nenek-nenek aja langsung berdiri? ”Hus, apanya yang montok” ”Itu belahan teteknya, makanya saya jadi begini” ”Oh ini, mau lihat?bokepdo.com-Keluarga istriku terdiri dari ibunya yang tak lain adalah mertua ku.

Aku berdiam sesaat hingga kurasakan denyutan kecil seperti hisapan-hisapan lembut.

Ternyata mertuaku mempunyai vagina yang bisa menghisap-hisap penis.

Kuremas-remas bongkahan pantatnya yang padat itu dengan tangan kanan dan tangan kiriku memelintir-melintir puting susunya dengan sesekali menjumput dan meremas buah dadanya itu.

Begitu terus bergantian dengan tangan kanan dan kiri.

Namun karena sekarang ini dia merasa sudah tidak mempunyai tanggungan apa-apa lagi dan juga telah mempunyai rumah di pinggiran kota Bandung, dia sudah berhenti dari kegiatannya itu. Katanya demam tuh, kusuruh istirahat saja” jawabku. ”Katanya piknik sama temen-temennya ke luar kota, kemarin sore berangkatnya” ”Oh”, jawabnya. ” Wajahnya sedikit memerah tetapi dijawabnya juga, “Ya, banyak-banyakin aja kerjaan, ya masak, nyuci piring, nyapu pekarangan, entar juga lupa, terus sudahnya, capek, ya tidur” ”Oh”, jawabku.

Aku dan istri setiap akhir bulan selalu menyempatkan diri ke rumah mertuaku sekaligus membawa uang ala kadarnya sekedar untuk menambah biaya hidup sehari-hari. ”Oh, wah, wah, wah, jangan-jangan tanda-tanda mau punya anak tuh”, ujar mertuaku senang. Memang mertuaku hanya tinggal berdua dengan Nony karena Cheny lebih memilih kost di dekat tempatnya bekerja. ”Kamu ini nanyanya ngawur, aja” ”He, he, he..” ”Sudah sore sana mandi” ”Iya Ma” Sementara aku mandi, kurasakan penisku yang sudah berdiri tegak.

Namun pada hari itu, Sabtu, entah kenapa istriku tidak enak badan dan menyuruhku pergi sendiri saja. ” Dia menyapaku memang kesannya basa- basi tetapi sebenarnya tidak. Memang dia ini sangat mendambakan cucu dari pernikahan kami. Mama punya sayur asem sama ikan asin pake sambel terasi, kamu mau nggak? ”Iya, aku mau banget tuh” Bergegas aku ke ruang makan dan melihat hidangan yang ditawarkannya itu masih belum disentuh siapapun. Kami mengobrol tentang macam-macam sampai obrolan yang nyerempet-nyerempet. Kukocok penisku sambil membayangkan tubuh mertuaku. Mertuaku ini masih lumayan kencang walau sudah memiliki anak tiga.

Kubawa motorku ke arah selatan kota Bandung hingga satu jam kemudian aku sampai di rumah yang sederhana tapi kokoh itu. Seperti biasanya kurebahkan tubuhku di bangku bale- bale bambu yang ada di ruang tamu untuk melepas lelah. ”Enggak, barusan kok”, jawabku menyambut sapaannya. ”Kamu ini sudah hampir dua tahun kok belum punya anak juga? Menurut istriku, dia rajin luluran kulit sawo matang disertai dengan minum jamu rutin.

”Sudah To, sudah” Tapi aku terus saja meremasnya dengan bersemangat.

”Sudah To, Mama mau mandi dulu” ”Bener mau mandi apa mau yang lain? ” Mertuaku tidak menjawab, hanya berlalu ke kamar mandi.

Satu hal lagi, dia ini tidak pernah memakai daster, atau baju apapun.